MUARA TEWEH – Polres Barito Utara bersiap untuk membuka babak baru dengan meninggalkan markasnya yang sarat akan nilai sejarah di Jalan Panglima Batur, Muara Teweh. Kepindahan ini akan mengakhiri fungsi bangunan yang telah menyaksikan perjalanan panjang sejak era kolonial Belanda, perjuangan kemerdekaan, hingga menjadi pusat penegakan hukum di Barito Utara.
Rencananya, seluruh aktivitas kepolisian akan dialihkan ke gedung Markas Komando Polres (Makopolres) yang baru di Kelurahan Jingah. Perpindahan ini tidak hanya sekadar perubahan lokasi kantor, tetapi juga merupakan peristiwa meninggalkan sebuah situs yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat setempat.
Bangunan yang kini dikenal sebagai Polres Barito Utara ini memiliki lapisan sejarah yang dalam. Awalnya, kompleks ini dibangun pada tahun 1891 sebagai barak atau markas tentara Hindia Belanda. Sebelum berdiri di lokasinya sekarang, benteng ini dikenal dengan nama Benteng Juking Hara.
Konstruksi bangunan awal menunjukkan kekuatan dan ketahanan. Badan utama bangunan terbuat dari kayu ulin, sementara pondasinya menggunakan beton setinggi 50 cm. Kekokohannya membuat para pejuang rakyat Barito pada masa itu menyebutnya sebagai “benteng”. Catatan sejarah tahun 1908 menunjukkan markas ini telah berdiri tegak dan terlihat dari ketinggian Gunung Lanan.
Pasca Kemerdekaan Indonesia, bangunan bersejarah ini beralih fungsi menjadi markas Polres Barito Utara. Meski zaman telah berubah dan sebagian besar kompleks sudah dimodernisasi menjadi bangunan beton, sisa-sisa fisik masa kolonial masih dapat disaksikan. Bagian belakang kantor Polres masih mempertahankan ruangan kayu ulin peninggalan Belanda yang hingga kini masih digunakan untuk operasional kepolisian.
Keberadaan sisa bangunan kayu ulin pasca relokasi nantinya menjadi perhatian bersama. Warisan sejarah ini diharapkan dapat dilestarikan sebagai bukti fisik dan monumen yang mengisahkan transisi Barito Utara dari masa penjajahan, perjuangan, hingga menjadi bagian dari Republik Indonesia. Kepindahan Polres menandai berakhirnya satu era, namun membuka harapan baru bagi pelestarian cagar budaya di Muara Teweh.
Oleh: Ahya Firmansyah
Sumber data: Info Kalteng 2020












