wartaborneo.com, MUARA TEWEH – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dissiptaka) Kabupaten Barito Utara menggelar pameran naskah-naskah kuno yang selama ini telah terjaga dan disimpan rapi oleh Dissiptaka.
Kepala Dissiptaka Barito Utara, Fakhri Fauzi menjelaskan, tujuan dilaksanakannya pameran naskah kuno ini sebagai bentuk pelestarian.
Dikatakan Fakhri Fauzi, pelestarian tidak hanya dilakukan dengan sekedar membaca, namun juga memamerkannya secara langsung ke masyarakat.
“Kami ingin memperkenalkan ke masyarakat Barito Utara agar masyarakat luas mengetahui adanya naskah ini di tempat kita. Ini adalah karya manusia yang sudah berumur cukup lama, sehingga masyarakat khusunya Barito Utara dapat belajar,” ujar Fakhri Fauzi.
Dari sejumlah naskah kuno yang dipamerkan dalam pameran tersebut, ada salah satu menjadi sorotan yakni naskah kuno berupa kitab suci umat muslim yaitu Al Qur’an yang sudah berusia 156 tahun dibuat dengan tulisan tangan.
Al Qur’an tulisan tangan ini ditulis seorang pedagang dan pendakwah bernama H.M. Tasin, yang mulai menulis mushaf Alquran ini di Mekkah pada tahun 1870 Masehi.
Kemudian sampailah Alquran tulisan tangan ini berada di Barito Utara setelah anak H.M. Tasin H. Usman dan H. Muhtar membawanya merantau ke tanah Bumi Iya Mulik Bengkang Turan, Barito Utara setelah sang ayah mewariskannya untuk dijaga.
Setelah itu, Al Qur’an tulisan tangan milik H.M. Tasin terus terjaga oleh anak, cucu hingga cicitnya sebelum akhirnya cicit H.M. Tasin bernama H. Afuw Anwar menyerahkan kepada Dissiptaka Barito Utara agar terus dilestarikan dan diketahui masyarakat luas.
Pameran ini juga memamerkan dua naskah kuno dengan umur hampir mencapai satu abad, yakni khotbah Idul Fitri dan Idul Adha yang ditulis H. Abdullah bin H.M Saleh berusia 93 tahun dan H. Abdul Aziz bin H. Abdurrahim berusia 83 tahun.
Rencananya pameran ini digelar dari 24 Februari hingga 13 Maret 2026, bertempat di Gedung Kearsipan dan Perpustakaan Barito Utara.
“Naskah kuno ini akan terus kita kenalkan ke masyarakat. Ini adalah bukti ketekunan manusia akan ilmu dan masih ada hingga saat ini,” terang Kadissiptaka Fakhri Fauzi.












