wartaborneo.com, BANJARMASIN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan mengerahkan drone thermal untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Alat canggih ini mampu mendeteksi radiasi panas dan anomali suhu hingga ratusan derajat Celsius di bawah permukaan tanah gambut, sehingga tim pemadam dapat menyasar titik api secara presisi.
Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra SSTP, menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan petugas memfokuskan upaya pemadaman melalui perendaman, penyuntikan air, atau penyiraman udara tepat di lokasi sumber api.
Ia menilai metode ini jauh lebih efektif jika membandingkannya dengan penyiraman konvensional, karena mampu meminimalisir pemborosan sumber daya.
“Drone thermal membantu kami mengetahui posisi pasti titik api. Setelah terdeteksi, kami langsung fokus memadamkan di sekitar area tersebut,” ujar Ronny usai Rapat Dengar Pendapat dengan DPRD Kalsel, Kamis (24/9/2026).
Meski demikian, Ronny belum dapat memastikan kapan karhutla akan padam sepenuhnya mengingat luasnya kawasan terbakar dan terbatasnya ketersediaan air. Ia mengakui curah hujan merupakan solusi paling efektif, namun prediksi musim hujan telah bergeser ke Desember. Oleh karena itu, BPBD Kalsel tetap siaga penuh hingga akhir Oktober.
Saat ini, karhutla mulai bergeser ke lingkar luar, ke Jalan Gubernur H Syarkawi. Ronny menegaskan bahwa kawasan tersebut menjadi prioritas utama karena terdapat Rumah Sakit Sambang Lihum milik Pemprov Kalsel. Seluruh sumber daya pemadaman kini dialihkan untuk mengamankan fasilitas kesehatan vital tersebut.
Sementara itu, wilayah Guntung Damar dan Pangayuan telah terkendali, meski penyiraman di area rawa dan gambut lain masih terus berlangsung.
Terkait anggaran, Ronny mengakui dana yang tersedia saat ini belum mencukupi untuk operasi maksimal. Ia menyebut kebutuhan ideal mencapai Rp50 miliar. Namun, bantuan saat ini dari pemerintah pusat, P•residen, serta sektor swasta berupa peralatan, personel, dan bahan bakar minyak telah mendukung kelancaran operasional.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, Ronny mendorong pembangunan dua hingga tiga embung dan sejumlah sumur bor di zona rawan karhutla. Ia juga menekankan pentingnya melanjutkan normalisasi saluran air di kawasan hutan lindung, Guntung Damar, dan Pangayuan guna mencegah kekeringan ekstrem di masa depan. (mun)












