wartaborneo.com, BANJARMASIN – Kabar duka menyelimuti warga Kalimantan Selatan. Tokoh masyarakat yang juga tokoh agama dan ulama karismatik sekaligus mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalsel dua periode, Tuan Guru Haji Husin Naparin Lc MA telah meninggal dunia pada Rabu (6/5/2026) pagi sekitar pukul 08.30 Wita.
Pihak keluarga mengonfirmasi bahwa almarhum mengembuskan napas terakhir setelah sempat menjalani perawatan medis di RS Sultan Agung Kota Banjarbaru.
Dari keterangan pihak keluarga di rumah duka, Tuan Guru Haji Husin Naparin awalnya dibawa ke rumah sakit pada Sabtu pekan lalu untuk keperluan pemeriksaan kesehatan rutin.
“Awalnya mau check-up biasa saja, akan tetapi karena ada kondisi lain, akhirnya dirawat inap. Subhanallah, tadi pagi beliau meninggal dunia,” ujar pihak keluarga saat ditemui awak media.
Dalam pada itu, pihak keluarga telah menyusun rangkaian prosesi pelepasan jenazah, setelah disholatkan di Masjid Jami’ Banjarmasin akan dibawa ke Kabupaten Balangan.
Disebutkan, untuk pemekaman jenazah, akan dibawa ke Paringin, Kabupaten Balangan. Almarhum akan dimakamkan di alkah keluarga, berdampingan dengan makam ibu beliau.
Kepergian Tuan Guru Haji Husin Naparin meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam di Kalsel. Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang gigih dalam totalitas berdakwah dan menjadi panuta, khususnya selama menjabat di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel dan Ketua MUI Kota Banjarmasin.
Anak kesayangan HM Arsyad dan Hj Rusiah yang lahir di Desa Kalahiang di Kabupaten Balangan pada 10 November 1947 ini kerap pula diundang menjadi narasumber.
Selain di MUI, alumni IAIN Antasari Banjarmasin, Universitas Al Azhar Kairo Mesir dan Universitas Punjab dan Islamabad Pakistan ini pernah pula memimpin Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kalsel dan Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Berikutnya sebagai Ketua Umum Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) di Amuntai, dosen IAIN Antasari Banjarmasin dan beberapa perguruan tinggi keagamaan, serta sederet jabatan lainnya, termasuk di LPTQ.
“Ada banyak peninggalan ilmu yang diwariskan suami Dra Hj Unaizah ini dari karya tulis berupa beberapa buku yang dia tulis maupun dari artikel-artikelnya di surat kabar selaku kolomnis,” kata Sekretaris Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Alwashliyah (Isarah) Kalsel, M Khalil.
Dengan mengucap innalillahi wa inna ilaihi raji’un, keluarganya yang ditinggalkan mendokan, semoga Allah SWT mengampuni segala dosa, menerima amal ibadahnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Suasana di rumah duka tampak keluarga dalam suasana penuh haru.
Ketika disalatkan, salat jenazah di Masjid Jami, jamaah penuh sesak. Ingin turut melepaskan kepergian beliau ke hadirat Ilahi. (mun)












