wartaborneo.com, PANGKALAN BUN – Di balik berbagai upaya peningkatan kualitas pendidikan, persoalan mendasar masih menghantui sejumlah sekolah di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Sejumlah anak bahkan siswa yang telah duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) masih belum mampu membaca dan menulis dengan baik.
Kondisi inilah yang mendorong Komunitas Insan Kreatif Gemilang terus bergerak menghadirkan pendampingan literasi bagi anak-anak yang membutuhkan. Komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dan literasi tersebut didirikan oleh Mia Cisadani.
Bersama sekitar 30 relawan yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan para pekerja, mereka secara konsisten meluangkan waktu untuk mengajar, mendampingi, serta memberikan motivasi kepada anak-anak agar tidak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.
Mia Cisadani mengatakan persoalan rendahnya kemampuan literasi masih menjadi kenyataan yang ditemuinya saat turun langsung ke lapangan. Menurutnya, masih ada anak-anak yang belum menguasai kemampuan dasar membaca dan menulis meski telah mengenyam pendidikan formal.
“Ketika saya terjun langsung ke lapangan, saya melihat sendiri masih ada anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis. Situasi ini membuat saya semakin yakin bahwa gerakan literasi harus terus dilakukan dan tidak boleh berhenti,” katanya, Sabtu, 4 Juli 2026.
Salah satu kegiatan yang saat ini dijalankan komunitas adalah mendampingi 14 anak putus sekolah di Kelurahan Baru. Melalui pendampingan tersebut, para relawan berupaya mengembalikan semangat belajar anak-anak sekaligus membekali mereka dengan kemampuan dasar yang sangat dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan.
Selain itu, Komunitas Insan Kreatif Gemilang juga memberikan pendampingan kepada siswa di SMPN 1 Kumai yang masih mengalami kesulitan membaca dan menulis.
Program tersebut dilakukan secara bertahap dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak agar proses belajar menjadi lebih efektif.
Dari hasil pendampingan yang dilakukan, Mia mencatat masih terdapat sekitar 20 anak di SDN 1 Raja yang membutuhkan perhatian khusus dalam kemampuan literasi.
Sementara itu, di SMPN 9 Kumpai Batu Bawah terdapat tujuh siswa yang mengalami kesulitan serupa, dan di SMPN 1 Kumai terdapat sekitar 12 siswa yang juga masih memerlukan pendampingan membaca dan menulis.
Pengalaman di lapangan juga memperlihatkan bahwa persoalan literasi tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah tersebut.
Mia Cisadani mengaku pernah menemukan anak-anak di wilayah Raja Seberang yang belum mampu membaca. Temuan itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa masih banyak anak yang membutuhkan perhatian bersama.
Bahkan, ia juga menerima informasi mengenai seorang lulusan SMK di Kecamatan Kumai yang belum bisa membaca. Keterbatasan kemampuan literasi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang menyulitkan dirinya memperoleh pekerjaan, hingga akhirnya bekerja sebagai tukang parkir.
Ia menegaskan bahwa kemampuan membaca dan menulis merupakan fondasi utama dalam kehidupan seseorang.
“Tanpa kemampuan tersebut, anak-anak akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mengikuti pendidikan, memperoleh pekerjaan, maupun meningkatkan kualitas hidup di masa mendatang,” tegas Mia Cisadani.
Karena itu, ia berharap semakin banyak pihak yang peduli terhadap persoalan literasi. Menurutnya, pemerintah, sekolah, orang tua, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga para pemuda dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing agar tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh hak atas pendidikan.
Bagi Mia Cisadani dan relawan, keberhasilan bukan hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari setiap anak yang akhirnya mampu mengeja huruf, membaca kalimat, dan menulis namanya sendiri.
Dari langkah-langkah kecil yang dilakukan para relawan, tumbuh harapan besar bahwa masa depan anak-anak Kotawaringin Barat tidak lagi terhalang oleh persoalan buta aksara.(NURITA)












