Sosial  

Literasi Rendah Berdampak pada Masa Depan Anak, Mia Cisadani Dorong Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Penggiat Literasi sekaligus Founder Komunitas Insan Kreatif Gemilang Kabupaten Kobar, Mia Cisadani bersama anak-anak putus sekolah (FOTO: IST)

wartaborneo.com – Anak yang tidak mampu membaca dan menulis berisiko mengalami masalah psikologis, putus sekolah hingga kesulitan bersaing di dunia kerja.

Rendahnya kemampuan membaca dan menulis tidak hanya berdampak pada prestasi akademik anak, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan mereka.

Hal tersebut disampaikan penggiat literasi Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Mia Cisadani, yang selama ini aktif mendampingi anak-anak putus sekolah belajar termasuk program baca tulis melalui Komunitas Insan Kreatif Gemilang.

“Banyak anak yang belum mampu membaca mengalami tekanan saat mengikuti proses belajar di sekolah. Mereka kesulitan memahami tulisan di papan tulis maupun materi pelajaran sehingga kerap tertinggal dibandingkan teman-temannya,” jelasnya, Senin, 8 Juni 2026.

Kondisi tersebut sering menimbulkan rasa minder, malu, bahkan kehilangan motivasi belajar. Tidak sedikit anak yang takut diejek atau menjadi sasaran perundungan karena kemampuan literasinya berada di bawah teman sebayanya.

Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis juga berhubungan dengan kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran dan emosi.

Ketika anak kesulitan memahami informasi maupun mengungkapkan gagasan, mereka berpotensi mengalami hambatan dalam perkembangan sosial dan emosional.

Ia mengingatkan, bahwa jika persoalan literasi dibiarkan, dampaknya dapat meluas hingga kehidupan sosial masyarakat.

Dalam jangka pendek, rendahnya kemampuan literasi dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kenakalan remaja dan angka pernikahan usia anak. Sementara dalam jangka menengah, risiko pengangguran dan kriminalitas juga dapat meningkat.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Mia bersama Komunitas Insan Kreatif Gemilang menerapkan metode pembelajaran yang mengadopsi pendekatan iqro dan media gambar.

Pembelajaran dimulai dari pengenalan huruf vokal secara bertahap sehingga anak lebih mudah mengenali dan mengingat bunyi huruf.

Selain belajar membaca, anak-anak juga dibacakan buku cerita sejak tahap awal pembelajaran. Cara ini bertujuan mengenalkan pelafalan dan intonasi yang baik, memperkaya kosakata, menumbuhkan imajinasi, sekaligus meningkatkan minat baca sejak dini.

“Biasanya program dari nol sampai anak lancar membaca dan mulai menyukai buku membutuhkan waktu sekitar tiga bulan,” kata Mia Cisadani.

Menurutnya, setiap anak memiliki karakteristik berbeda sehingga proses belajar harus dilakukan dengan metode yang menyenangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Ia menegaskan, bahwa keberhasilan program literasi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Ia berharap sekolah lebih aktif melakukan pendataan siswa yang mengalami kesulitan membaca, meningkatkan kepedulian guru terhadap ketertinggalan belajar siswa, serta bekerja sama dengan praktisi pendidikan dan literasi. Di sisi lain, orang tua juga diharapkan memberikan teladan melalui kebiasaan membaca di rumah.

“Anak adalah peniru ulung. Jika ingin anak tumbuh baik, temani mereka, dengarkan mereka, dan berikan contoh yang baik,” pungkasnya.

 

Penulis: Nurita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *